Rara Jonggrang dan seribu arca Bandung Bandawasa
Seorang raja yang bertahta di kerajaan Baka, mempunyai seorang puteri cantik bernama Lara Jonggrang. Kecantikannya terkenal seantero negeri, mengundang raja sakti dan gagah perkasa untuk melamarnya, namun semua itu di tolaknya, karena memang belum mempunyai keinginan untuk menikah. Salah satu pelamarnya adalah Bandung Bandawasa, yang bukan hanya seorang pelamar melainkan seorang berkuasa yang beisa penyebabkan kesulitan politik bagi ayahnya.
Ini berarti Lara Jonggrang tidak bisa sekedar menolak tapi dia harus menolak dengan alas an yang tepat. Maka iapun mengajukan syarat bagi pelamarnya itu, yakni hanya bersedia menikah, jika Bandung Bandawasa sanggup membangun seribu arca dalam semalam. Lara jonggrang brefikir, jika satu arca batu daja di selesaikan dalam bebulan-bulan, tentu Bandung Bandawasa tidak akan sanggup melayani permintaan membangun seribu arca dalam semalam.
Bandung Bandawasa mengerti, syarat yang di ajukan Lara JOnggrang itu hanya untuk menolak lamarannya, karena di pastikan akan gagal. Karena itu Bandung Bandawasa menggunakan kekuasaannya untuk meminta bantuan kepada siluman. Para makhluk itu menyanggupi membangun seribu arca dalam semalam, dan pada hari yang di tentukan mereka bekeerja. Cara berfikir siluman tidak seperti manusia. Sebetulnya para siluman bisa tergandakan menjadi seribu, jika setiap siluman membangun satu arca, tentu seribu arca itu akan selesai dengan cepat dekali. Namun para siluman itu membangun satu arca secara bersama-sama. Akibatnya, bukan lebih cepat malahan jadi lebih lambat, meskipun untuk ukuran manusia sudah cepat sekali.
Malam itu lara jonggrang mengirim dayang-dayangnya untuk memeata-matai pekerjaan mereka. Tentu saja para siluman itu tidak bisa di saksikan dengan mata telanjang, para dayang-dayang hanya dapat melihat arca itu tumbuh satu persatu di dalam tanah, dengan hasil yang begitu indah. Para siluman memang di kenal sangat ahli dalam kerja kesenian, bahkan merek menguasai kehlian itu tanpa pernah mempelajarinya. Dengan memperhitungkan laju pertumbuhan arca-arca itu, di banding eaktu yang tersisa, di pastikan seribu arca itu akan terselesaikan sebelum fajar menyingsing.
Lara Jonggrang belum mau menyerah. Ia tidak ingin menikah. Ia mencari agar pekerjaan para siluman itu gagal. Maka ia meminta dayang-dayangnya dara-dara di prambanan,meminta agar mereka menumbuk padi di lesungnya masing-masing.
Apa yang kemudian terjadi …….? Mendengar suara alu menumbuk padi di dalam lesung, ayam jantan mengira hari sudah pagi. Biasanya ayam jantan terbangun dengan cahaya pertama yang mendahului terbitnya matahari di cakrawala. Meski hari masih gelap, ayam jantan bisa melihatnya, dan berkokoklah mereka, tapi kali ini sudah terdengar suara lesung, meski tak ada cahaya di ufuk timur, mereka tetap berkokok.
Mengira hari sudah pagi, para siluman kembali ke alamnya, tak bisa di suruh-suruh lagi, karena makhluk halus hanya bisa hidup dalam kegelapan, ketika manusia tidak bisa melihat apa-apa. Sehingga arca yang di selesaikan hanya berjumlah sembila ratus Sembilan puluh Sembilan buah arca.
Bandung bandawasa dengan kesaktiannya bisa mengerti betapa ia telah sengaja di gagalkan, namun ia tidak mau mengerti. Ia dating menemui Lara Jonggrang dan berkata, ‘seribu arca itu hanya kurang satu, sudilah dikau jadi permaisuriku.’ Tetpi Lar Jonggrang menolaknya, aku tak mau mencabut kata-kataku, aku hanya bersedia dikau nikahi jika arca itu berjumlah seribu.
Tentu saja Bandung Bandawasa yang sakti itu menjadi murka, dan diapun berkata, kalau begitu dikau menjadi pelengkao arca menjadi seribu. Kurangnya satu arca biarlah dig anti oleh dirimu. Itulah yang menjadi arca Lara Jonggrang di dalam candi siwa di komplek csndi prambanan. Bandung Bandawasa juga mengutuk semua gadis prambanan m,enjadi perawan tua……………..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar